Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

mencintamu; setelah pergimu

kalau aku bisa memutar waktu takkan pernah kubiarkan ini terjadi kalau aku tau kita berakhir dengan ini takkan pernah ku ambil langkahku yang keliru tidak, aku tidak pernah menyalahkanmu juga rasamu atau sikapmu lalu siapa yang patut dipersalahkan? mungkin; tingkah luguku dan kenaifanku kala itu nyatanya, sekarang aku tak baik baik saja tanpamu nyatanya, aku tak bahagia melihatmu terbiasa bahkan baik baik saja tanpaku padamu, pemilik suara bariton yang menenangkan aku mencintaimu; persis selepas pergimu bolehkah aku memintamu kembali padaku?

temanku; sepi dan sendiri

suara ketikan komputer itu tiba tiba terhenti dibenamkannya wajah sendu itu pada tangan yang dilipatnya pada meja kayu yang sudah terkikis dimakan usia entah dari mana pikiran itu tiba tiba hadir tanpa permisi, tanpa mohon diri iya; si wajah sendu merasakannya (lagi) merasakan kekosongan pada dirinya juga perasaan sedih lain yang ia sendiri tak tau persis apa itu hujan di langit mata jatuh tanpa aba aba ingin sekali rasanya menumpahkan segala rasa sedih yang mempuncah sejenak, ia termenung kepada siapa rasa ini harus dibaginya sementara, temannya hanyalah sepi

sekali saja merasa sedih, boleh?

kadang aku bertanya tanya, apakah buruk jika kita merasa tidak baik baik saja? apakah salah kita merasa sedih entah apa sebabnya? apakah tidak boleh sekali saja membenarkan rasa sedih? apakah keliru aku meminta untuk didengar, sekali saja? apakah sulit untuk mendengar tanpa menghakimi? mungkin; bagi mereka hidup akan lebih baik  bila diisi dengan perasaan positif  tanpa pernah membenarkan perasaan negatif dan selalu bersembunyi dibalik kata 'aku tak apa' atau 'aku baik-baik saja' padahal, ku pikir tak selamanya yang negatif itu negatif  ku rasa takkan pernah adil jikalau perasaan negatif selalu disalahkan tapi, katamu untuk apa bersedih? ku jawab dengan lugas; untuk merasakan bahagia mungkin kita tak akan pernah sepakat perihal pembenaran rasa sedih entah memang kamu terlalu kuat menghadapi dunia hingga lupa rasanya sedih atau mungkin memang aku yang terlalu perasa?